Jumat, 03 Agustus 2012

RECYCLING : SAMPAH = UANG

RECYCLING : SAMPAH = UANG
Oleh : Edy Syahputra S.Pd.

Walaupun usia sudah memasuki kepala empat dan telah beprofesi sebagai seorang tenaga pengajar, saya masih suka membeli jajanan kecil seperti coklat, permen dan biskuit. Kebiasaan ngemil ini dilakukan hampir setiap hari di saat-saat senggang. Suatu hari saat sedang menimang kemasan biskuit yang baru dibeli, entah kenapa saya teringat pada sebuah buku pemasaran yang pernah saya baca. Biskuit ditangan saya dibungkus dengan sangat bersih dan menarik. Demikian pentingnya kemasan sebagai suatu strategi pemasaran sehingga perusahaan makanan berani mengeluarkan dana lebih untuk memperoleh kemasan yang sesuai dengan imej produk. Dan pada gilirannya biaya tambahan tersebut akan dibebankan kepada ongkos produksi dan termasuk dalam salah satu komponen harga jual.
Saya berandai-andai, tadi saya mengeluarkan uang sebesar 500 rupiah untuk membeli sebuah biskuit ini lengkap dengan kemasannya. Jadi kira-kira berapa yang saya bayar untuk harga kemasan kosong yang pasti akan saya buang ini? Warna dan kualitas plastiknya lumayan bagus dan kuat. Harganya pasti lumayan. Sayang sekali karena saya hanya dapat memanfaatkan isinya dan harus membuang kemasannya.
Bila saya mengumpulkan nilai dari seluruh kemasan produk yang pernah saya beli, mungkin nilainya cukup untuk membeli sebuah sepeda motor, atau mungkin mobil? Entahlah, tapi saya yakin jumlahnya cukup lumayan karena saya termasuk orang yang lebih sering mengemil daripada merokok. Tentu semua akan jadi berbeda jika saya bisa memanfaatkan seluruh bekas kemasan tersebut.
Dalam sebuah seminar yang saya ikuti beberapa hari lalu, saya hampir tak percaya dengan materinya. Sebuah LSM yang bergerak dibidang daur ulang sampah / recycling menggagaskan pengelolaan sampah dari limbah plastik dan kertas. Mereka tidak ragu-ragu membagi ilmu dimana sampah plastik dan kertas dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai keramik / guci yang terbuat dari tanah liat. Sangat mirip dan sangat bernilai ekonomis. Saat itu saya langsung mengkalkulasi nilainya. Mungkin saya dapat menjualnya kepada kerabat yang sering mengumpulkan pajangan sejenis dengan nilai diatas 100 ribu rupiah. Dan angka itu membuat saya tersenyum senang.
Dalam kepala saya terbayang sampah-sampah plastik yang dapat dengan cepat saya kumpulkan, lalu kertas-kertas sisa ulangan siswa (karena saya adalah tenaga pengajar disebuah sekolah) yang bertumpuk di lemari buku hingga kerap membuat istri saya mengomel karena susah dirapikan. Hmm… sepertinya proyek segera dapat dimulai.
Sepulangnya dari kegiatan seminar, saya segera mengintruksikan kepada istri untuk merendam tumpukan kertas-kertas yang tak terpakai lalu menghaluskannya dengan menggunakan mesin blender hal ini dilakukan untuk menghemat waktu. Raut wajah heran tampak terlihat wajah sang istri tercinta yang mungkin merasa aneh dengan semangat saya yang menggebu-gebu. Saya sesumbar kepadanya akan membuatkan guci dan vas bunga ‘keramik’ yang mahal untuknya. Saya juga minta agar mulai saat ini, ia memilahkan sampah rumah tangga menurut jenisnya. Sampah plastik, kayu maupun sisa-sisa masakan harus diletakkan pada wadah yang berbeda. Saya juga berniat mengolah sampah organik menjadi kompos selain proyek limbah plastik dan kertas.
Apakah ada hal yang aneh dalam kegiatan daur ulang ini? Tidak ada. Semuanya mengalir begitu alami. Kata recycling atau daur ulang sering kali terdengar seperti suatu slogan atau propaganda. Pemerintah maupun kelompok masyarakat seringkali menggaungkan kata ini. Dulu saya selalu tak merasa tersentuh. Saya seringkali merasa kegiatan daur ulang tak lebih dari suatu kerajinan tangan dan menggunakan limbah sebagai suatu bentuk penghematan. Tidak bernilai ekonomi. Hanya sebuah program untuk mengurangi tingkat sampah di perkotaan. Tetapi kali ini saya merasa berbeda. recycling terasa seperti suatu hal yang nyata, karena saya tak mau seperti orang bodoh yang melewatkan kesempatan menghasilkan sesuatu yang bisa dengan mudah saya lakukan di waktu senggang. Setiap rupiah yang saya keluarkan untuk membeli suatu produk akan kembali menghasilkan rupiah untuk saya asalkan saya sedikit meluangkan waktu untuk mengolah limbahnya.
Misi saya tidak hanya sampai disini. ‘Keramik buatan’ dari kertas dan plastik yang saya jemur di halaman rumah ternyata memancing para tetangga untuk bertanya. Lalu dengan semangat, istri bercerita bahwa ada beberapa orang yang tertarik atas proyek ini. Dan mereka penasaran dengan hasil jadinya.
Saya sadar, bahwa recycling bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Manusia sulit untuk memperhatikan hal lain diluar kepentingannya. Recycling untuk bumi, recycling untuk generasi mendatang, atau recycling untuk kelangsungan populasi manusia mungkin sulit untuk dipahami dan disadari oleh masyarakat yang sibuk mencari jalan mengisi perut. Tetapi recycling untuk menambah penghasilan. Recycling untuk uang. Mungkin akan lebih nyata dan lebih menyentuh. Dan yang paling penting adalah kemauan untuk memulai suatu pergerakan yang dapat dilihat, disentuh dan dirasa langsung oleh masyarakat. Masyarakat secara naluri selalu berusaha memanfaatkan benda-benda miliknya seefisien mungkin. Lihat saja ibu-ibu rumah tangga yang rajin mengumpulkan plastik dan botol bekas untuk dijual ke ‘botot”. Anak muda pun sering menyimpan sesuatu yang mereka anggap menarik walaupun hanya berupa wadah bekas. Hal ini terbukti dari baiknya antusiasme siswa-siswa yang saya ajak untuk ikut kegiatan recycling ini. Dengan sukarela mereka mau mengorbankan waktu liburnya untuk mengikuti proyek saya ini. Apalagi didalam lingkungan sekolah dapat dipastikan selalu tersedia sampah plastik maupun kertas.
Saya pernah melihat di salah satu sekolah yang pernah saya kunjungi. Mereka menyediakan tempat sampah dengan tiga wadah yang berbeda. Tiap wadah mewakili prinsip recycling dengan memilah antara sampah organik (gampang busuk), sampah plastik serta sejenisnya, serta sampah keras seperti besi atau kayu. Siswa dibiasakan untuk membuang sampah sesuai dengan tahapan proses recycling sehingga mereka akan terbiasa memilah sampah sesuai jenisnya agar dapat direcycling sesuai jenis sampah. Sampah organik akan diolah menjadi kompos, sampah plastik dan styrofoam akan dapat dijadikan benda baru yang bernilai jual, sementara sampah yang keras dapat diolah sendiri atau dijual kepada pengepul barang bekas. Suatu hal yang baik untuk melibatkan institusi pendidikan dalam budaya recycling.
Alangkah baiknya jika pemerintah dalam hal ini Dinas yang terkait dapat melakukan penyuluhan seperti yang saya kecap di Hotel berbintang itu untuk sekolah – sekolah dan masyarakat kecil di desa-desa atau sudut kota. Saya yakin hal ini akan lebih menggerakkan masyarakat dibandingkan hanya spanduk yang dipajang di pinggir jalan. Menggerakkan sekolah ditiap jenjang pendidikan maupun PKK di setiap kelurahan pasti akan lebih efektif bagi pelestarian lingkungan bernilai sosial ekonomi ini. Dan recycling dalam kehidupan, bukan lagi berupa slogan ataupun propaganda. Karena, recycling sekarang ada dalam kehidupan saya.
                                   
                                                                                                Penulis adalah Pengajar di
                                                                                                SMPN 20 Medan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar