RECYCLING : SAMPAH = UANG
Oleh : Edy Syahputra S.Pd.
Walaupun usia sudah memasuki
kepala empat dan telah beprofesi sebagai seorang tenaga pengajar, saya masih
suka membeli jajanan kecil seperti coklat, permen dan biskuit. Kebiasaan ngemil
ini dilakukan hampir setiap hari di saat-saat senggang. Suatu hari saat sedang
menimang kemasan biskuit yang baru dibeli, entah kenapa saya teringat pada
sebuah buku pemasaran yang pernah saya baca. Biskuit ditangan saya dibungkus
dengan sangat bersih dan menarik. Demikian pentingnya kemasan sebagai suatu
strategi pemasaran sehingga perusahaan makanan berani mengeluarkan dana lebih
untuk memperoleh kemasan yang sesuai dengan imej produk. Dan pada gilirannya
biaya tambahan tersebut akan dibebankan kepada ongkos produksi dan termasuk
dalam salah satu komponen harga jual.
Saya berandai-andai, tadi
saya mengeluarkan uang sebesar 500 rupiah untuk membeli sebuah biskuit ini
lengkap dengan kemasannya. Jadi kira-kira berapa yang saya bayar untuk harga
kemasan kosong yang pasti akan saya buang ini? Warna dan kualitas plastiknya
lumayan bagus dan kuat. Harganya pasti lumayan. Sayang sekali karena saya hanya
dapat memanfaatkan isinya dan harus membuang kemasannya.
Bila saya mengumpulkan nilai
dari seluruh kemasan produk yang pernah saya beli, mungkin nilainya cukup untuk
membeli sebuah sepeda motor, atau mungkin mobil? Entahlah, tapi saya yakin
jumlahnya cukup lumayan karena saya termasuk orang yang lebih sering mengemil
daripada merokok. Tentu semua akan jadi berbeda jika saya bisa memanfaatkan
seluruh bekas kemasan tersebut.
Dalam sebuah seminar yang
saya ikuti beberapa hari lalu, saya hampir tak percaya dengan materinya. Sebuah
LSM yang bergerak dibidang daur ulang sampah / recycling menggagaskan pengelolaan sampah dari limbah plastik dan
kertas. Mereka tidak ragu-ragu membagi ilmu dimana sampah plastik dan kertas
dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai keramik / guci yang terbuat dari
tanah liat. Sangat mirip dan sangat bernilai ekonomis. Saat itu saya langsung
mengkalkulasi nilainya. Mungkin saya dapat menjualnya kepada kerabat yang
sering mengumpulkan pajangan sejenis dengan nilai diatas 100 ribu rupiah. Dan
angka itu membuat saya tersenyum senang.
Dalam kepala saya terbayang
sampah-sampah plastik yang dapat dengan cepat saya kumpulkan, lalu
kertas-kertas sisa ulangan siswa (karena saya adalah tenaga pengajar disebuah
sekolah) yang bertumpuk di lemari buku hingga kerap membuat istri saya mengomel
karena susah dirapikan. Hmm… sepertinya proyek segera dapat dimulai.
Sepulangnya dari kegiatan
seminar, saya segera mengintruksikan kepada istri untuk merendam tumpukan
kertas-kertas yang tak terpakai lalu menghaluskannya dengan menggunakan mesin
blender hal ini dilakukan untuk menghemat waktu. Raut wajah heran tampak
terlihat wajah sang istri tercinta yang mungkin merasa aneh dengan semangat
saya yang menggebu-gebu. Saya sesumbar kepadanya akan membuatkan guci dan vas
bunga ‘keramik’ yang mahal untuknya. Saya juga minta agar mulai saat ini, ia
memilahkan sampah rumah tangga menurut jenisnya. Sampah plastik, kayu maupun
sisa-sisa masakan harus diletakkan pada wadah yang berbeda. Saya juga berniat
mengolah sampah organik menjadi kompos selain proyek limbah plastik dan kertas.
Apakah ada hal yang aneh
dalam kegiatan daur ulang ini? Tidak ada. Semuanya mengalir begitu alami. Kata
recycling atau daur ulang sering kali terdengar seperti suatu slogan atau
propaganda. Pemerintah maupun kelompok masyarakat seringkali menggaungkan kata
ini. Dulu saya selalu tak merasa tersentuh. Saya seringkali merasa kegiatan
daur ulang tak lebih dari suatu kerajinan tangan dan menggunakan limbah sebagai
suatu bentuk penghematan. Tidak bernilai ekonomi. Hanya sebuah program untuk
mengurangi tingkat sampah di perkotaan. Tetapi kali ini saya merasa berbeda.
recycling terasa seperti suatu hal yang nyata, karena saya tak mau seperti
orang bodoh yang melewatkan kesempatan menghasilkan sesuatu yang bisa dengan
mudah saya lakukan di waktu senggang. Setiap rupiah yang saya keluarkan untuk
membeli suatu produk akan kembali menghasilkan rupiah untuk saya asalkan saya
sedikit meluangkan waktu untuk mengolah limbahnya.
Misi saya tidak hanya sampai
disini. ‘Keramik buatan’ dari kertas dan plastik yang saya jemur di halaman
rumah ternyata memancing para tetangga untuk bertanya. Lalu dengan semangat,
istri bercerita bahwa ada beberapa orang yang tertarik atas proyek ini. Dan
mereka penasaran dengan hasil jadinya.
Saya sadar, bahwa recycling
bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Manusia sulit untuk memperhatikan
hal lain diluar kepentingannya. Recycling untuk bumi, recycling untuk generasi
mendatang, atau recycling untuk kelangsungan populasi manusia mungkin sulit
untuk dipahami dan disadari oleh masyarakat yang sibuk mencari jalan mengisi
perut. Tetapi recycling untuk menambah penghasilan. Recycling untuk uang. Mungkin
akan lebih nyata dan lebih menyentuh. Dan yang paling penting adalah kemauan
untuk memulai suatu pergerakan yang dapat dilihat, disentuh dan dirasa langsung
oleh masyarakat. Masyarakat secara naluri selalu berusaha memanfaatkan
benda-benda miliknya seefisien mungkin. Lihat saja ibu-ibu rumah tangga yang
rajin mengumpulkan plastik dan botol bekas untuk dijual ke ‘botot”. Anak muda
pun sering menyimpan sesuatu yang mereka anggap menarik walaupun hanya berupa
wadah bekas. Hal ini terbukti dari baiknya antusiasme siswa-siswa yang saya
ajak untuk ikut kegiatan recycling ini. Dengan sukarela mereka mau mengorbankan
waktu liburnya untuk mengikuti proyek saya ini. Apalagi didalam lingkungan
sekolah dapat dipastikan selalu tersedia sampah plastik maupun kertas.
Saya pernah melihat di salah
satu sekolah yang pernah saya kunjungi. Mereka menyediakan tempat sampah dengan
tiga wadah yang berbeda. Tiap wadah mewakili prinsip recycling dengan memilah
antara sampah organik (gampang busuk), sampah plastik serta sejenisnya, serta
sampah keras seperti besi atau kayu. Siswa dibiasakan untuk membuang sampah
sesuai dengan tahapan proses recycling sehingga mereka akan terbiasa memilah
sampah sesuai jenisnya agar dapat direcycling sesuai jenis sampah. Sampah
organik akan diolah menjadi kompos, sampah plastik dan styrofoam akan dapat
dijadikan benda baru yang bernilai jual, sementara sampah yang keras dapat
diolah sendiri atau dijual kepada pengepul barang bekas. Suatu hal yang baik
untuk melibatkan institusi pendidikan dalam budaya recycling.
Alangkah
baiknya jika pemerintah dalam hal ini Dinas yang terkait dapat melakukan
penyuluhan seperti yang saya kecap di Hotel berbintang itu untuk sekolah –
sekolah dan masyarakat kecil di desa-desa atau sudut kota. Saya yakin hal ini
akan lebih menggerakkan masyarakat dibandingkan hanya spanduk yang dipajang di
pinggir jalan. Menggerakkan sekolah ditiap jenjang pendidikan maupun PKK di
setiap kelurahan pasti akan lebih efektif bagi pelestarian lingkungan bernilai
sosial ekonomi ini. Dan recycling dalam kehidupan, bukan lagi berupa slogan
ataupun propaganda. Karena, recycling sekarang ada dalam kehidupan saya.
Penulis
adalah Pengajar di
SMPN
20 Medan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar